Sasi, Korona, dan Pemulihan Lingkungan

Sasi, Korona, dan Pemulihan Lingkungan
Raja Ampat (Kun Bennyardhi Photoworks)

Ismail Suardi Wekke
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sorong

Terkini.id, Sorong – Destinasi wisata ditutup.

Kunjungan ke daerah manapun dalam wilayah Raja Ampat tidak terbuka sama sekali.

Wisatawan tidak berada lagi di wilayah-wilayah destinasi pelancongan.

Kali pertama, sejak 1997 dimana Raja Ampat terbuka untuk umum.

Baca juga:

Kemudian tahun 2000, menjadi awal dari dikenalnya Raja Ampat sebagai destinasi wisata.

Bahkan menarik wisatawan mancanegara.

Saat ini, paling tidak dua kesempatan untuk menutup satu kawasan di Raja Ampat. Melalui sasi, dan kali ini karena wabah yang merebak seentaro Indonesia.

Papua Barat, tetap steril dan nihil kasus positif Covid-19, sampai Kamis 26 Maret 2020.

Hanya saja, tidak ada yang bisa memperkirakan kondisi ini akan bertahan sampai kapan.

Untuk itu, penutupan destinasi wisata menjadi kesempatan untuk mencegah penularan wabah sekaligus sebagai kesempatan untuk pemulihan lingkungan.

Setelah 23 tahun dieksplorasi untuk kepentingan pariwisata, kali ini dilakukan penutupan menyeluruh.

Sebuah momentum untuk memberikan kesempatan alam untuk tidak terjamah.

Daerah tertentu, menurut kesepakatan masyarakat ditutup secara berkala. Ini yang menjadi praktik sasi.

Masa penutupan ataupun pembukaan ditentukan dengan beragam cara. Melalui tempat ibadah, atapun adat di lingkungan masing-masing.

Begitupun sasi dapat diterapkan pada Kawasan yang juga beragam.

Pala, kelapa, daerah pemancingan, ataupun wilayah perairan, dijadikan sebagai kawasan sasi.

Dalam konteks yang berbeda, baik sasi maupun Korona adalah saat untuk berhenti sejenak.

Keduanya memberikan kesempatan bagi alam untuk tidak mendapatkan eksplorasi apapun dari manusia.

Ini juga dapat menjadi masa untuk mendapatkan pemulihan.

Setelah 20 tahun lebih digunakan sepenuhnya untuk kepentingan manusia.

Korona bisajadi diartikan sebagai mekanisme alam yang datang dengan kuasa-Nya. Arti sesungguhnya tetap rahasia.

Namun, ini hanya interpretasi semata dalam memaknai ujian yang datang.

Perubahan bisa terjadi karena sebuah kondisi yang memaksa, sebagaimana Korona. Dengan wabah ini memberi peluang untuk mendapatkan cara pandang baru terhadap kondisi yang sudah dialami.

Interaksi dengan alam akan mengalami pergeseran dengan gaya baru, dan cara baru. Ini adalah pendekatan yang sesungguhnya sudah diketahui manusia, hanya saja kadang lalai dalam pengetahuan itu sendiri.

Korona memberi kesempatan untuk sejenak berhenti dan memikirkan pola interaksi alam yang selama ini ada yang keliru. Eksploitasi yang tidak pernah jeda.

Maka, ketika Korona merebak, terhenti dengan sendirinya.

Ketika ini saatnya berlalu, maka perlu menemukan pola baru sehingga ekploitasi alam tidak lagi menjadi tujuan dalam aktifitas apapun.

Justru diperlukan jeda, dan itu bukan dari wabah.

Komentar

Rekomendasi

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar